Seven Years of Love
~
Son Naeun "Apink" & Kim Myungsoo "Infinite"
~
AU, typo unseen, drama life
~
A/N : Diadaptasi dari film Thailand yang saya lupa apa judulnya -_-
~
Don't like? Are you crazy?
Aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku peringkat 1 dari seluruh siswa di SMA tempat aku menghabiskan waktu menuntut ilmu. Dan peringkat lima dari seluruh SMA lokal.
Puas rasanya melihat Ibu bangga. Adikku juga bangga.
“Naeun-ah, karena nilaimu bagus, ibu izinkan kamu menemui ayahmu di New York dan melanjutkan sekolah disana,” kata Ibu sambil menyediakan beberapa masakan kesukaanku di meja makan.
Tentu saja aku senang. Hadiah ini lebih dari yang aku bayangkan dari sekedar smartphone terbaru. “Beneran, bu?” tanyaku tak percaya.
“Tadi malam ibu sudah bicara pada ayahmu melalui email. Kasihan ayahmu disana tak ada yang mengurusnya. Lagipula walau kau bukan peringkat satu juga kau akan tetap kesana,” ucap Ibu sambil duduk diseberang meja yang berhadapan denganku. Aku mendengus.
“Aku juga mau ke Amerika bu, ketemu ayah, main salju Amerika juga,” rengek Saeun sambil menggoyang-goyangkan kaki pendeknya yang menggantung. Aku tersenyum melihat tingkah childish adikku yang ku ketahui sudah naik ke kelas 6 SD.
“Kamu boleh ikut kok, Sae-ah…,” ucapku menggantung. “Ikut mengantarku sampai bandara, hahaha,” lanjutku sambil menyentil dahinya.
“Aww,” jeritnya sambil memegangi dahinya. “Ibuuuu,” rengek Saeun sambil manyun pada Ibu.
“Sudahlah kalian berdua. Ayo dimakan masakan Ibu sebelum dingin. Sae-ah kan harus menemani Ibu di Seoul. Lalu Naeun-ah, di pesta perpisahan besok jangan coret-coret baju seragammu,” perintah Ibu yang membuat kami berdua diam dan langsung menurut.
~0~
Jangan mencoret-coret baju? Maafkan aku, Ibu. Untuk yang satu ini aku tidak bisa. Tidak akan sip rasanya jika perpisahan siswa tidak diwarnai dengan coret-mencoret. Maka aku biarkan Yookyung dan Sohyun, kedua sahabat akrabku di SMA ini, mencoret masing-masing kedua lengan baju seragamku dengan tanda tangan mereka layaknya selebritis.
Setelah selesai, aku gentian mencoret baju mereka dengan gambar panda yang super besar dan dibubuhi tanda tangan spesialku. Hahaha.
Disamping itu, banyak juga siswa-siswi lain yang mencoreti baju kami, dan bergantian. Tidak semua siswa sih.
Ada juga beberapa laki-laki yang memang berwajah tampan, melewati kami dengan baju seragam penuh coretan namun tak berkancing. Mereka pun melihati kami dengan tatapan jangan-ambil-kancing-bajuku-yang-terakhir. Idih, siapa juga yang mau.
Kami bertiga melewati papan pengumuman besar sekolah dan berhenti disana. Terlihat disana foto ku terpampang sebagai siswa berprestasi seangkatanku. Lalu ada banyak lagi foto lainnya. Contohnya saja Bae Suzy, teman sebangkuku, yang tidak terlalu akrab, tapi bisa dibilang akrab juga sih, terpilih sebagai wanita tercantik seangkatanku. Lalu disebelahnya…
“Waaaa, sudah kuduga Myungsoo akan menjadi Cowok terganteng seangkatan kita,” jerit Sohyun. Aku menoleh padanya sambil tertawa kecil.
Yookyung yang menyadari pergerakanku langsung menyenggol Sohyun. “Naeunie, kupikir sekaranglah saatnya kamu nyatakan!” seru Yookyung padaku yang disambut anggukan oleh Sohyun.
Iya, benar juga. Perasaan yang dipendam selama tiga tahun ini, jangan berakhir seperti ini! Ucapku dalam hati sambil membara-bara menyemangati diriku sendiri.
“Doakan aku teman-teman!” ucapku pada mereka.
“Ne! fighting!” ucap mereka berbarengan. Aku pun pergi mencari Myungsoo.
Tiga tahun aku mengumpulkan keberanian demi cinta pertamaku itu…
Aku pun menemuinya tanpa sengaja saat aku melewati area kolam renang indoor. Ternyata ia berada di dalam sana, dengan sebuah kamera SLR canon kesayanganya.
Perlahan aku memasuki area itu dalam diam dan memperhatikannya mengambil beberapa gambar di kolam renang yang sepi itu. Tanpa sengaja ia arahkan kameranya padaku dan langsung terpotret.
Aku membeku. Myungsoo juga awalnya membeku, namun ia menurunkan kameranya dan melihat hasil jepretannya. Ia tersenyum. Hei, mengapa dia tersenyum? Apakah wajah ku terlihat derp di kameranya?
“Naeun-ah, selamat ya atas prestasimu yang membanggakan,” katanya sambil tersenyum gentle yang membuat ku makin berdebar. Aku pergi menuju dirinya yang sedang berdiri di pinggir kolam.
“Kau juga.. terpilih menjadi cowok tertampan seangkatan kita,” ucapku.
“Ayahku tak akan bangga padaku dengan predikat itu,” jawabnya sambil mengarahkan kamera padaku lagi dan ‘Blip’, aku pun berkedip-kedip karena blitz yang ditimbulkan oleh kamera Myungsoo. Memang begitu hobinya, mengambil gambar orang secara spontan.
“Ehmm, Myungsoo, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucapku dengan keberanian maksimal dan jantung yang berdetak begitu cepat dari biasanya. Bahkan lebih cepat daripada hari-hari dimana aku memperhatikan Myungsoo dalam diam agar tidak ketahuan.
Myungsoo menghentikan kegiatannya yang sedang melihat hasil jepretannya tadi dan langsung menghadap padaku. Bisa kulihat mimik mukanya berubah.
“Aku… suka padamu. Selama tiga tahun ini aku suka padamu dan tidak pernah berhenti menyukaimu. Aku ikut dalam klub drama, klub dance, klub majalah sekolah sebenarnya hanya untuk mencari perhatian darimu, Myungsoo, jadi, maukah kau menerimaku?” ucapku dengan cepat tapi aku yakin terdengar jelas olehnya dan ia mengerti.
Wajah Myungsoo terlihat lain. Seperti terkejut, tetapi ada hal lain yang tak bisa dijelaskan juga. Kedua matanya memandang melas padaku. “Naeun-ah, aku..” ucapnya menggantung.
Oh tidak, biasanya kalau jawabannya seperti ini pastiakan ditolak. Aku takut melihat matanya. Aku pun menurunkan pandanganku dan tak sengaja melihat salah satu kancing seragam Myungsoo tidak ada. Disampingnya tertulis, ‘Already Taken! Myungsoo love Jiyeon, sarangheyo Yeongwonhi’
Jiyeon, satu angkatan juga denganku. Cantik. Anak klub drama dimana aku dan Myungsoo juga bergabung.
Sungguh aku sangat sangat sangat ingin mati. Mati lebih baik. Malunya aku.
“Naeun-ah..” ucapnya lagi.
“Jiyeon? Kau ternyata sudah berpacaran dengan Jiyeon, ya? Sejak kapan? Tapi tak masalah lah, kupikir kalian cocok kok, hahaha. Selamat ya, Myungsoo,” ucapku sambil menepuk pundak kirinya dengan tegar. Ya, tegar di luar, tetapi siap meraung di dalam.
“Naeun-ah aku…” ucap Myungsoo lagi.
“Ah tidak tidak. Aku mau pulang dulu, ganti baju dan siap-siap latihan untuk parade sekolah nanti,” ucapku padanya dengan terburu-buru. “Bye, Myung,” kataku langsung menoleh berjalan dan ‘byurrr’. Aku lupa… kita sedang berada di pinggir kolam.
“Naeun, Naeun kau tidak apa-apa?” tanya Myungsoo sambil menurunkan tanganya untuk membantuku naik. Aku tidak langsung menyambutnya. Tentunya aku harus menghapus titik-titik air mata yang jatuh. Aku memang sedang sial.
“Aku tidak apa-apa Myungsoo, maaf merepotkanmu,” ucapku sambil menyambut tangannya dan keluar dari kolam setinggi dada itu.
“Kau yakin?” tanyanya lagi. Aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
“Iya,” jawabku dengan airmata yang keluar bergantian.
Langsung saja aku berlari kelaur. Ternyata disana ada Yookyung dan Sohyun dan aku menabrak mereka.
“Naeunnie, ada apa denganmu?” tanya Yookyung sambil memegang tanganku. Tentu saja mereka akan bertanya seperti itu pada orang yang menangis dan baju seragamnya basah kuyup sepertiku.
Sungguh moodku sedang buruk. Aku menghempaskan pegangan Yookyung dan berlari meninggalkan mereka. Tak kuhiraukan Sohyun yang menyerukan namaku berkali-kali hingga kuyakin Yookyung lah yang membuatnya berhenti meneriakkan namaku.
Aku berlarian tak tentu arah hingga tak sengaja menabrak Suzy yang sedang memegang sekeranjang coklat dan beberapa buket bunga.
“Naeun-ssi? Kau kenapa?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Hanya saja tanpa sadar aku langsung memeluknya dan menangis dengan keras dibahunya. Tak kusangka Suzy membalas pelukanku.
Son Naeun, 18 Tahun, alumni SMA Seoul Center dengan predikat siswa tebaik…… sedang patah hati.
~0~
Hari pun berganti. Aku sudah lulus namun aku masih harus pergi ke sekolah lagi. Ada parade tahunan sebulan lagi dan aku menyesal dua bulan yang lalu aku daftar sebagai mayoret hanya untuk mendapatkan perhatian Myungsoo.
Myungsoo… aku berharap ia tak datang ke sekolah. Tapi itu hanya harapan. Nyatanya ia lewat di depanku. Aku berlari sebelum sempat ia memanggil namaku.
~0~
Tak kusangka, Jongin, mantan ketua OSIS seangkatanku, menyatakan suka padaku. Dan aku tak percaya pada mulutku yang berkata iya atas pernyataan cintanya. Oh, Naeun apa yang kau pikirkan?
Biarlah, sudah terlanjur. Kupikir dengan berpacarannya Jongin denganku adalah sebuah langkah ‘Move On’. Untuk apa menunggu Myungsoo putus dari Jiyeon? Dan kenapa aku berpikir begitu? Mereka sempurna dan kupikir suatu saat nanti mereka akan… menikah…
~0~
Ternyata Jongin cukup manly dan gentle. Setara dengan Myungsoo menurutku. Tapi tentu saja mereka berdua berbeda.
Beberapa kali Jongin mencuri-curi ciuman dariku. Ya, dia cukup ‘Bad Boy’. Entahlah, aku takkan marah. Lagipula… seminggu lagi adalah kepergianku ke Amerika.
~0~
Ternyata… cukup sakit juga memutuskan hubungan dengan seseorang. Tak kusangka Jongin sebegitu cintanya padaku. Kupikir ia dulu hanya main-main. Namun setelah ku jelaskan semua dari awal, ia mengerti. Aku heran mengapa ia mengerti. Seharusnya ia marah padaku. Marah, benci, atau bahkan menyumpahiku. Namun ia bilang apapun yang aku lakukan takkan sebanding dengan rasa cintanya padaku.
Astaga Jongin…
Mudah-mudahan kau menemukan yang lebih baik dariku, yang memang ditakdirkan untukmu, begitu pesan singkat terakhir yang aku kirim padanya sebelum aku menonaktifkan handphone ku.
Namun yang aku bingung, darimana datangnya photobook berwarna coklat yang sangat tebal ini? Pagi-pagi sekali sudah berada di depan pintu rumah. Dan isinya… semua tentang fotoku. Foto-foto culunku waktu masih kelas satu SMA,, foto saat aku berkeringat setelah pelajaran olahraga, foto aku lagi tertawa dengan Yookyung dan Sohyun, dan yang paling mencengakan… fotoku bersama Jongin saat Jongin menyatakan perasaannya padaku, lalu di beri keterangan dengan gambar hati yang patah. Dihalaman terakhir buku itu ada fotoku saat aku menemui Myungsoo di kolam renang indoor.
Aku tahun ini pasti dari Myungsoo, tapi kenapa?
“Naeun-ah, ada apa dengan wajahmu? Apa kau tidak ingin pergi ke Amerika?” tanya Ibu yang khawatir melihatku.
Aku terdiam sebentar. “Aku sudah memutuskan untuk mengambil sekolah Fashion, bu. Tidak apa-apa kan?” tanyaku.
Ibu mengangguk. “Asal kau bahagia dengan pilihanmu, tapi jangan malas-malasan,” ucap Ibu.
Aku tersenyum. “Ibu, bisakah ibu jagakan benda ini?” kataku sambil memberikan photobook itu pada Ibu.
“Kau tidak ingin membawanya?” tanya Ibu.
Aku menggeleng. “Aku ingin fokus. Aku akan sukses. Aku janji akan membuat Ibu dan Ayah bangga karena melahirkanku,” jawabku.
Sebaris air mata keluar dari ujung matanya. Ibupun memelukku erat tepat saat pengumuman pesawatku akan take off. “Ibu akan sangat merindukanmu, Naeun-ah.” Aku membalas pelukan ibu.
~0~
Tujuh tahun berlalu setelah itu.
Aku sudah menjadi orang yang sukses. Setelah lulus sekolah fashion, aku memutuskan untuk pergi ke Paris dan bergabung dengan brand fashion yang terkenal disana. Direktur fashion begitu menyukai kinerja dan karyaku. Berkat itu aku menjadi terkenal dan sukses tentunya. Kabar ini pun sampai ke korea.
Dan disinlah aku, disebuah acara Live Talkshow di salah satu stasiun tv swasta terkenal di Korea…
“Mulai On Air dalam, 3, 2, 1!” ucap sutradara pengarah acara.
“Selamat malam pemirsa acara Live Talkshow edisi spesial malam ini yang akan dibawakan oleh saya, Jessica,” ucap presenter acara cantik disampingku sambil tersenyum dan membungkuk ke arah kamera, dan tak lama terdengar riuh tepuk tangan penonton di studio.
“Baiklah, mengapa saya bilang spesial malam ini? Karena saat ini disamping saya ada wanita cantik yang sudah membanggakan Korea dengan prestasinya,” ucapnya. Kamerapun diarahkan padaku, “Sambut saja, Son Naeun! Fashion designer dengan predikat internasional,” lanjut presenter itu lagi.
Penonton makin riuh, tentu saja diantaranya ada Ibu dan Saeun yang sudah remaja, Yookyung dan Sohyun, beberapa teman-temanku di SMA dulu, dan beberapa anak yang memakai seragam sekolah seperti punyaku dulu.
“Annyeong,” ucapku sambil membungkuk ke arah kamera dan tersenyum.
“Annyeong, Naeun-ssi,” ucap Jessica-eonni. Aku pun duduk menghadap padanya dan kami saling membungkukkan badan member salam.
“Ehmm… jadi, seperti ini seorang designer terkenal yang bekerja di paris? Saya pikir lebih tua? Tapi ternyata anda lebih muda lima tahun dibawah saya, ya? Hahaha,” ucapnya basa-basi sambil tertawa padaku.
Aku ikut tertawa kecil mendengarnya. “Ah, maafkan aku karena lebih muda dari anda,” ucapku sambil membungkukkan badan lagi sambil tersenyum geli.
Presenter itu tertawa dikuti penonton lain, “Ah tidak tidak Naeun-ssi bukan maksudku seperti itu, hahaha, baiklah. Eummm apa yang membuat anda bisa menjadi seperti ini?” tanyanya padaku.
Aku melihat ke arah ibuku sambil tersenyum. Ibu membalasnya. “Dulu aku pernah berjanji pada ibuku untuk membuat Ayah dan Ibu bangga. Mungkin janji itulah yang membuatku bisa seperti ini,” ucapku. “Itu dia, ibuku ada disana<” ucapku sambil menunjuk Ibu dan melambaikan tangannya padanya.
“Oh, benar. Ibu sangat berperan penting dalam kesuksesan kita. Lalu, saya dengar, anda datang ke korea untuk suatu proyek? Benarkah? Bisa diceritakan?” tanya presenter itu lagi.
Aku mengangguk. “Ya. Benar. Saya diundang menteri untuk parade kebudayaan korea. Saya dipercaya untuk mendesign hanbok modern dalam parade kebudayaan internasional nanti dan ini membuat saya tertarik. Sekalian berlibur saya pikir<” jelasku.
“Berapa lama anda tidak pulang ke Korea?”
“Eummm, kira-kira… tujuh tahun, hampir tujuh tahun,”
“Tujuh tahun? Apa anda tak merindukan keluarga?” tanya presenter itu yang terkejut.
“Tentu saja saya rindu pada mereka, tapi… ya… ye begitu,’ jawabku sambil tersenyum-senyum.
Presenter itu pun tampak mengambil sesuatu dubawah. “Apakah anda ingat benda ini?” tanyanya sambil memperlihatkan sebuah photobook coklat dan memberikannya padaku.
Aku memandangi photobook yang ada di tanganku. Aku memeluknya sambil tersenyum. “Tentu saja saya ingat. Photobook ini begitu berarti sehingga saya meminta ibu saya yang lembut hati untuk menjaganya,” jawabku sambil nyengir.
“Waahh… begitukah?” tanya si Presenter. Akupun mengangguk. “Baiklah pemirsa dirumah dan di studio. Hari ini tidak hanya Nona Naeun karena saya punya satu lagi tamu yang akan saya wawancarai,”
Aku terdiam. Bukannya hanya ada aku sampai di akhir acara?
“Kita sambut Photographer muda yang baru saja mendapat Life Achievement Award atas kerja kerasnya dalam bidang Photograpy, Kim Myungsoo!”
Apa katanya? Kim Myungsoo?
Aku segera berdiri dan menoleh kebelakang. Benar saja, Myungsoo, berjalan menuju arah kami sambil membawa sebuah buket mawar. Dia lebih dewasa sekarang.
“Lama tak berjumpa,” ucapnya begitu sampai di sampingku. Ia memberikan buket mawar itu untukku.
“Iya, lama tak berjumpa. Terima kasih,’ ucapku sambil menatapnya sendu.
“Mari silahkan duduk,” ucap presenter mempersilahkan kami. Kami pun duduk. “Ehm, Myungsoo-ssi apa ada yang ingin kau bicarakan pada Naeun?” tanya presenter itu.
Aku menoleh pada Myungsoo dengan penuh tanda tanya. Ia terlihat mengambil sesuatu di kantongnya. Sebuah kancing telah digenggamnya dan ia berikan padaku. “Jangan terlalu cepat salah paham,” katanya.
Aku bingung saat menerima kancing itu. Terlebih lagi pada apa yang ia ucapkan, apa maksudnya.
“Lalu, Naeun-ssi, apa ada yang ingin kamu tanyakan pada Myungsoo-ssi?” tanya presenter itu lagi.
Aku menatap Myungssoo lekat-lekat dan penuh kerinduan. “Apa… kau sudah menikah?” tanyaku. Jujur saja mungkin aku harus pergi ke Laut Arktik setelah ini karena pertanyaan bodoh ini.
Myungsoo terdiam. Mimik mukanya saat ini sama seperti tujuh tahun yang lalu. Saat aku ditolak.
“Aku…” ucap Myungsoo menggantung yang membuat jantungku ingin meledak. Ia balik menatapku. Tatapan yang tajam dan penuh keyakinan. “Aku menunggu sesorang pulang dari Paris. Aku sudah membicarakannya pada Ibunya, bahkan aku memanggil Ibunya dengan Mama dan adiknya sudah menganggapku sebagai kakak iparnya,” ucapnya dengan berani.
Astaga. Ya, Tuhan, aku mohon jangan biarkan ini menjadi sebuah ilusi. Tanpa sadar air mataku turun dengan deras.
“Ya, aku mencintaimu, Son Naeun,” ucapnya sambil menangkup wajahku. “Dan aku tidak pernah berpacaran dengan Jiyeon.”
Tujuh tahun aku menunggu kalimat ini darinya…
Studio menjadi heboh. Bisa kulihat Ibu menangis terharu sambil memeluk Saeun.
Hanya menunggu waktu untuk kami berdiri bersama di depan altar pernikahan.
Belakangan aku tahu, semua ini sudah direncanakan oleh Myungsoo. Danaku juga baru saja tahu bahwa Myungsoo adalah anak menteri yang mengundangku.
-END-

Huaa keren (ʃƪ˘▿˘) cuma kurang panjang (‾▽‾") makin lope lope sama myungeun ( ´̯-̮`̯)
ReplyDelete