Title : AWAKE
Length/Part :
Chapter, 1/?
Cast :
Kim Jongin (Kai), Son Naeun, Oh Sehun, Hong Yookyung, Kwon Yuri (Figure and not
mentioned), Lee Sungmin (Figure and not mentioned)
Rate :
T for Tua #plak -_-v
Genre :
School, Hurt and Comfort, Friendship, Romance
Disclaimer :
Story belong to me ME and the character belong to theirs.
Warning : Typo, Alur lambat, cerita tidak jelas
.
Don’t like? Don’t read! Easy right than you spend your time
for bashing
.
“Aku benci padamu…”
Kata-kata itu selalu terngiang di benaknya. Menggema dan
menghantui setiap mimpi di malam tidurnya. Padahal ia adalah seorang lelaki
tangguh, dan ia tidak mengerti mengapa ia bersikap seperti anak perempuan yang
deg-degan tentang hal-hal percintaan yang sulit.
Ia adalah Jongin. Kim Jongin. Atau yang biasa dipanggil
Kai. Begitu ujarnya agar dianggap keren di sekolahnya. Dan sekarang jam 03.00
KST. Ini sudah kesepuluh kalinya ia melihat jam kecilnya di nakas. Atau mungkin
lebih dari itu. Ia tak bisa tidur untuk kesekian kalinya bulan ini.
Padahal di sekolah nanti akan ada pelajaran matematika.
Sebenarnya tidak perlu penekanan menyebut nama mata pelajaran tersebut. Tapi
ini lebih ditekankan pada Gurunya yang killer yang tidak menerima toleransi
terhadap muridnya yang tertangkap menguap di kelas, terlebih lagi tidur.
Sepertinya ini masalah yang sulit. Kim Jongin yang malang…
11.00 KST
Bel istirahat di Seoul High School telah berbunyi. Kai
boleh bernafas lega hari ini. Diturunkannya kaki kiri nya yang selama dua jam
diangkat. Ia urut kaki kanannya dengan rasa kasihan.
‘Tuk’
“Aish!” umpatnya sembari memegangi kepalanya yang ‘digetuk’
dengan bolpoint.
“Ini terakhir kalinya saya melihat siswa saya tertidur di
kelas. Ambil tugas khusus untukmu di meja saya pulang sekolah nanti. Paham?”
ucap si Pelaku. Seorang guru. Sepertinya ia guru matematika, terlihat dari
modul pelajaran yang ia bawa dan beberapa pengaris segitiga.
“Baik, Seonsaengnim,” jawab Kai lemas tanpa menoleh pada
gurunya.
“Bagus.” Gumam guru tersebut singkat sambil melengang pergi
meninggalkan Kai.
Ia pun mulai berani mengangkat kepalanya dan menatap
kepergian guru killer tersebut dari belakang. Sesungguhnya guru itu cantik dan
seksi, pikir Kai. Terlihat dari lekuk ‘bottom’nya yang dibalut rok ketat
berwarna hitam, dan rambut panjangnya yang diikat ekor kuda sehingga terlihat
lekuk lehernya.
Tapi sayang ia galak dan ia sudah tua, lanjut pikirnya. Ia
pun jadi tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan jadi ‘berondong’ guru
tersebut.
Kai melihat sekitar koridor sekolah. Ia jadi tampak bodoh
saat ia sedang jongkok di depan kelasnya
sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Dan parahnya lagi siswa-siswi yang
berjalan melewati kelas 1-II dimana Kai belajar, berlalu sambil melihati
dirinya dengan tatapan aneh, freak, dan nerd. Ia hanya menarik nafas sambil
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun bergegas berdiri dan berlari
kecil memasuki kelasnya dan menghambur ke tempat duduknya paling belakang.
“Tidak bisa tidur lagi?” sapa seorang laki-laki yang duduk
di sebelah Kai. Atau memang teman sebangkunya.
Kai mengangguk sambil memijit kedua pelipisnya. “Untuk yang
kesekian kalinya,” balasnya.
“Hanya segitunya sampai-sampai kau tidak bisa tidur tenang
selama dua bulan ini?” ucap temannya histeris.
Kai menarik nafas dalam-dalam. Kemudian melayangkan tangan
kanannya sehingga mendarat di pundak kiri temannya tersebut. “Sehun-a!”
serunya. “Baru kali ini ada seorang perempuan yang tidak aku kenal bilang benci
padaku, Sehun-a… Aku merasa terpukul!” ucapnya tak kalah histeris dengan gaya
lebay.
“Bisa dibilang ini ujian untukmu, Kai,” ujar Sehun,
temannya tersebut, sambil menepuk-nepuk tangan Kai yang berada di pundaknya.
“Makanya jangan merasa kegantengan. Akhirnya ada juga perempuan yang bilang
benci padamu.” Lanjutnya.
Bisa dibilang saat ini Kai sedang menyumpah-nyumpah
terhadap Sehun. Bukannya menghibur malah meledek, jerit hatinya sambil
menoyor-noyor gemas pipi putih Sehun.
Kai melipat kedua tangannya di atas meja belajarnya.
Pandanganya menatap lurus pada kursi kosong paling depan yang sebaris
dengannnya. “Tapi aneh ya, setelah ia mengatakan itu, ia tidak masuk sampai
sekarang ini.”
Sehun yang sedari tadi melahap stick coklat melirik pelan
pada Kai. “Segitu perhatiannya,” ucapnya singkat.
“Tidak! Tidak! Bukan begitu!” sangkal Kai sewot sambil
menunjuk-nunjuk wajah Sehun. Sementara yang ditunjuk hanya memutar matanya
malas karena ia yakin ada apa-apanya pada teman yang ia kenal saat upacara
penerimaan siswa baru dua bulan yang lalu tersebut. “Aku hanya tidak menyangka
ada orang yang membuang begitu saja kesempatan belajar di sekolah ini!”
lanjutnya menggebu-gebu.
Memang, Seoul High School adalah sekolah paling diminati
nomor 1 di Korea Selatan. Sekolah dengan standar nilai tinggi, fasilitas
terlengkap, pengajar berkualitas, dan beberapa program beasiswa ke
Universitas-universitas terkenal di dunia. Siapa yang mau melepaskan semua itu?
Apalagi tes masuk sekolah ini saja menyamai perasaan saat mengikuti ujian akhir
hidup dan mati sewaktu masih SMP dulu?
“Aku dengar gadis itu menjalani Home Schooling. Karena ia
merasa tak sanggup apalah begitu ku dengar.
Tapi yang jelas Home Schooling,”
ucap Sehun. Harus diakui, Sehun termasuk informan handal. Kai pun mau
tidak mau percaya pada apa yang Sehun
katakan.
“Memang bisa begitu? Home Schooling?” Tanya Kai setengah
tidak percaya.
“Apa sih yang tidak bisa di SHS ini?” ucap Sehun setelah
menghabiskan satu stick coklat terakhirnya.
Kai akhirnya hanya mengangguk-angguk membentuk huruf O pada
mulutnya.
Mereka pun diam setelah itu, Sehun asyik dengan Handphone
nya dan Kai asik sendiri dengan pikiran-pikirannya.
Siapa nama gadis itu waktu itu? Son… Naeun ya? Sepertinya
iya. Son Naeun, pikirnya.
16.00 KST
Masuk di sekolah bergengsi dengan reputasi yang baik memang
punya resiko yang tidak menyenangkan. Contohnya saja pulang sore. Biasanya
sekolah lain pulang jam dua siang. Hanya Seoul High School saja yang menetapkan
aturan pulang jam empat sore. Jika sudah memasuki tahun ketiga akan menjadi jam
enam sore. Persiapan ujian akhir dan masuk universitas.
Sebenarnya Kai biasa saja. Lagipula ia senang bisa
bersekolah disini. Selain membuat Ibunya bangga, ia juga dapat mengikuti
ekstrakulikuler dance yang hanya ada di sekolah ini. Daripada ia harus
mengeluarkan sejumlah uang lagi untuk memasuki sekolah dance dan harus
menyusahkan ibunya dengan semua itu?
Hanya masalahnya, sekarang Kai harus mengambil tugas
tambahan yang diberikan Guru Matematika Seksi tadi. Ia hampir saja lupa jika
saja tidak ada pengumuman dari ruang siaran tepat setelah bel pulang sekolah
berbunyi. Sekarang ia harus menahan malu, menebalkan muka, mengingat hanya ia,
atau baru ia saja di sekolah ini yang mengalami ‘hal seperti ini’.
“Annyeong Seonsaengnim,” sapa Kai pada guru yang sedang
mengetik sebuah kuis matematika pada notebooknya. Tampaknya guru tersebut
memang layak menjadi staff pengajar di SHS ini. Selain cantik dan seksi, ia
juga termasuk wanita yang smart dan penuh perencanaan.
Guru tersebut menoleh. “Oh, Kau Kim Jongin kelas satu-dua
kan?” Tanya guru tersebut meyakinkan.
“Ne, Seonsaengnim,” jawab Kai sambil mengangguk.
Guru tersebut mengambil tiga lembar kertas dari map
plastiknya yang berwarna pink. Lalu menyerahkannya pada Kai. “Ini kamu kerjakan
semua. Saya harap seminggu kemudian tugas ini dikumpulkan dan dijawab dengan
benar,” ucap guru tersebut dengan lemah lembut.
“Ne, Seonsaengnim,” jawab Kai lagi. Jujur saja jantungnya
berdetak tidak karuan saat ini. Terlebih lagi guru matematika ini bersikap
lembut padanya. Berlainan seratus delapan puluh derajat saat bertemu di kelas
tadi.
“Sekarang pulanglah. Saya minta maaf karena memarahimu tadi
pagi,” ujar guru tersebut.
“Tidak! Tidak, Seonsaengnim! Saya lah yang seharusnya minta
maaf!” seru Kai.
“Baiklah. Sekarang kamu pulang,” jawab guru tersebut.
“Terima kasih, Seonsaengnim,” ucap Kai sambil membungkuk.
Ia pun bergegas pergi dari ruang guru tersebut dengan hati yang bisa dibilang
berbunga-bunga. Mungkin setelah ini guru tersebut akan menjadi guru favoritnya
selama di sekolah.
“Tolong, ya. Antar tugas tambahan ini pada Son Naeun.”
“Ne, Seonsaenim,”
Pembicaraan singkat itu membuat langkah Kai berhenti. Ia
menoleh dan melihat ke arah dua orang yang berbicara tadi. Hong Yookyung, teman
sekelasnya, dan seorang Guru Sejarah
yang tadi mengajar di kelasnya. Dan mereka tadi menyebutkan nama ‘Son Naeun’
yang membuat rasa ingin tahunya keluar.
“Saya permisi dulu,” ucap Yookyung sambil membungkuk dan ia
pun undur diri dari hadapan guru tersebut. Kai tidak tinggal diam. Ia langsung
saja mengikuti Yookyung.
“Ya! Hong Yookyung!!” panggil Kai. Gadis berambut pendek
itu pun menoleh kebelakang untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
“Kim Jongin?” ucapnya dengan penuh tanda tanya.
“Hei, apa kau mengenal Son Naeun?” tanya Kai.
“Tentu saja. Bahkan kami serumah,” jawab Yookyung.
“Kalian bersaudara?” tanya Kai lagi semakin ingin tahu.
Yookyung menggeleng. “Kami bukan saudara, namun kedua orang
tua kami saling mengenal, kami pun diberikan sebuah rumah untuk tempat kami
tinggal bersama ketiga eonni kami dan dua orang saeng. Jadi semuanya… tujuh
orang,” jawab Yookyung panjang lebar.
Kai mengangguk dan mulutnya membentuk huruf O. “Jadi… Son
Naeun kenapa? Dia sakit?” tanya Kai lagi.
“Ingin tahu saja,” jawab Yookyung sambil memonyongkan bibir
mungilnya. Ia melihat jam di tangannya kemudian melengang pergi meninggalkan
Kai.
“Ya! Ya! Hong Yookyung! Apa salahnya aku bertanya?” ujar
Kai sambil mengejar-ngejar Yookyung. Gadis itu diam saja. Kai tidak tinggal
diam. “Hey!” ucapnya sambil memegang lengan Yookyung, membuat langkah gadis itu
berhenti mendadak. Gadis itu melotot pada Kai. Ia ingin cepat-cepat pulang hari
ini.
“Apa!” ujar Yookyung.
“Bolehkah aku ikut ke rumahmu, eh, kalian? Aku ingin…
menjenguk Son Naeun!” seru Kai.
“Tidak boleh!” jawab Yookyung sarkastik sambil melepaskan
pegangan Kai. Ia pun kembali melangkah pergi.
“Hei kenapa tidak boleh?” tanya Kai sambil berjalan
dibelakang Yookyung.
“Nanti dia akan membencimu,” jawab Yookyung tanpa menoleh
sedikitpun.
Langkah Kai terhenti. “Benci?” ucap Kai membeo. Dan kalimat
yang selama ini menghampiri malam tidurnya pun kembali terngiang di kepalanya.
“Aisshhh!” Kai mengacak-acak rambutnya yang memang sudah
acak-acakan dengan gemas. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Membuat ia
semakin penasaran dengan gadis tersebut. Son Naeun.
17.00 KST
Kai menghembuskan nafasnya keras atas kerja kerasnya. Bukan
Kim Jongin namanya kalau menyerah begitu saja.
Kini ia berada di depan sebuah rumah besar berwarna pink
dengan halaman yang luas dan pagar besi berwarna hitam yang tinggi. Lelaki itu
sempat terperangah melihat rumah yang luasnya dua puluh kali lipat dibandingkan
rumahnya yang ia tempati berdua saja dengan ibunya.
Memang sih, menurut penuturan teman-teman,yang pasti hal
ini ia dengar dari Sehun langsung, bahwa Yookyung adalah siswi yang paling kaya
di SHS.
Oh, ya. Sekedar informasi, Kai mengikuti Yookyung dari
belakang seperti penguntit. Tapi hasilnya, ia berhasil sampai tiba di depan
rumah besar yang dihuni tujuh orang wanita tersebut.
Tentu saja Kai tidak akan mengetuk pintu atau memencet bel,
mengingat gerbangnya di tutup. Untuk hari ini saja ia akan menjadi penjahat,
menyusup di rumah perempuan, pikirnya. Ia pun bergegas mencari jalan masuk.
Berhasilkah ia?
-To Be Continued-
#ketawasetan
No comments:
Post a Comment
Yang udah berkunjung mohon tinggalkan untuk komentar. Saranghaeyo <3