Wednesday, April 3, 2013

[Fanfic] Awake - Part 01 - KaiEun - ExoPink Fanfic


Title : AWAKE

Length/Part : Chapter,  1/?

Cast : Kim Jongin (Kai), Son Naeun, Oh Sehun, Hong Yookyung, Kwon Yuri (Figure and not mentioned), Lee Sungmin (Figure and not mentioned)

Rate : T for Tua #plak -_-v

Genre : School, Hurt and Comfort, Friendship, Romance

Disclaimer : Story belong to me ME and the character belong to theirs.

Warning : Typo, Alur lambat, cerita tidak jelas
.

Don’t like? Don’t read! Easy right than you spend your time for bashing

.


“Aku benci padamu…”

Kata-kata itu selalu terngiang di benaknya. Menggema dan menghantui setiap mimpi di malam tidurnya. Padahal ia adalah seorang lelaki tangguh, dan ia tidak mengerti mengapa ia bersikap seperti anak perempuan yang deg-degan tentang hal-hal percintaan yang sulit.

Ia adalah Jongin. Kim Jongin. Atau yang biasa dipanggil Kai. Begitu ujarnya agar dianggap keren di sekolahnya. Dan sekarang jam 03.00 KST. Ini sudah kesepuluh kalinya ia melihat jam kecilnya di nakas. Atau mungkin lebih dari itu. Ia tak bisa tidur untuk kesekian kalinya bulan ini.

Padahal di sekolah nanti akan ada pelajaran matematika. Sebenarnya tidak perlu penekanan menyebut nama mata pelajaran tersebut. Tapi ini lebih ditekankan pada Gurunya yang killer yang tidak menerima toleransi terhadap muridnya yang tertangkap menguap di kelas, terlebih lagi tidur.

Sepertinya ini masalah yang sulit. Kim Jongin yang malang…


11.00 KST

Bel istirahat di Seoul High School telah berbunyi. Kai boleh bernafas lega hari ini. Diturunkannya kaki kiri nya yang selama dua jam diangkat. Ia urut kaki kanannya dengan rasa kasihan.

‘Tuk’

Aish!” umpatnya sembari memegangi kepalanya yang ‘digetuk’ dengan bolpoint.

“Ini terakhir kalinya saya melihat siswa saya tertidur di kelas. Ambil tugas khusus untukmu di meja saya pulang sekolah nanti. Paham?” ucap si Pelaku. Seorang guru. Sepertinya ia guru matematika, terlihat dari modul pelajaran yang ia bawa dan beberapa pengaris segitiga.

“Baik, Seonsaengnim,” jawab Kai lemas tanpa menoleh pada gurunya.

“Bagus.” Gumam guru tersebut singkat sambil melengang pergi meninggalkan Kai.

Ia pun mulai berani mengangkat kepalanya dan menatap kepergian guru killer tersebut dari belakang. Sesungguhnya guru itu cantik dan seksi, pikir Kai. Terlihat dari lekuk ‘bottom’nya yang dibalut rok ketat berwarna hitam, dan rambut panjangnya yang diikat ekor kuda sehingga terlihat lekuk lehernya.

Tapi sayang ia galak dan ia sudah tua, lanjut pikirnya. Ia pun jadi tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan jadi ‘berondong’ guru tersebut.

Kai melihat sekitar koridor sekolah. Ia jadi tampak bodoh saat ia sedang jongkok  di depan kelasnya sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Dan parahnya lagi siswa-siswi yang berjalan melewati kelas 1-II dimana Kai belajar, berlalu sambil melihati dirinya dengan tatapan aneh, freak, dan nerd. Ia hanya menarik nafas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun bergegas berdiri dan berlari kecil memasuki kelasnya dan menghambur ke tempat duduknya paling belakang.

“Tidak bisa tidur lagi?” sapa seorang laki-laki yang duduk di sebelah Kai. Atau memang teman sebangkunya.

Kai mengangguk sambil memijit kedua pelipisnya. “Untuk yang kesekian kalinya,” balasnya.

“Hanya segitunya sampai-sampai kau tidak bisa tidur tenang selama dua bulan ini?” ucap temannya histeris.

Kai menarik nafas dalam-dalam. Kemudian melayangkan tangan kanannya sehingga mendarat di pundak kiri temannya tersebut. “Sehun-a!” serunya. “Baru kali ini ada seorang perempuan yang tidak aku kenal bilang benci padaku, Sehun-a… Aku merasa terpukul!” ucapnya tak kalah histeris dengan gaya lebay.

“Bisa dibilang ini ujian untukmu, Kai,” ujar Sehun, temannya tersebut, sambil menepuk-nepuk tangan Kai yang berada di pundaknya. “Makanya jangan merasa kegantengan. Akhirnya ada juga perempuan yang bilang benci padamu.” Lanjutnya.

Bisa dibilang saat ini Kai sedang menyumpah-nyumpah terhadap Sehun. Bukannya menghibur malah meledek, jerit hatinya sambil menoyor-noyor gemas pipi putih Sehun.

Kai melipat kedua tangannya di atas meja belajarnya. Pandanganya menatap lurus pada kursi kosong paling depan yang sebaris dengannnya. “Tapi aneh ya, setelah ia mengatakan itu, ia tidak masuk sampai sekarang ini.”

Sehun yang sedari tadi melahap stick coklat melirik pelan pada Kai. “Segitu perhatiannya,” ucapnya singkat.

“Tidak! Tidak! Bukan begitu!” sangkal Kai sewot sambil menunjuk-nunjuk wajah Sehun. Sementara yang ditunjuk hanya memutar matanya malas karena ia yakin ada apa-apanya pada teman yang ia kenal saat upacara penerimaan siswa baru dua bulan yang lalu tersebut. “Aku hanya tidak menyangka ada orang yang membuang begitu saja kesempatan belajar di sekolah ini!” lanjutnya menggebu-gebu.

Memang, Seoul High School adalah sekolah paling diminati nomor 1 di Korea Selatan. Sekolah dengan standar nilai tinggi, fasilitas terlengkap, pengajar berkualitas, dan beberapa program beasiswa ke Universitas-universitas terkenal di dunia. Siapa yang mau melepaskan semua itu? Apalagi tes masuk sekolah ini saja menyamai perasaan saat mengikuti ujian akhir hidup dan mati sewaktu masih SMP dulu?

“Aku dengar gadis itu menjalani Home Schooling. Karena ia merasa tak sanggup apalah begitu ku dengar. 
Tapi yang jelas Home Schooling,” ucap Sehun. Harus diakui, Sehun termasuk informan handal. Kai pun mau tidak  mau percaya pada apa yang Sehun katakan.

“Memang bisa begitu? Home Schooling?” Tanya Kai setengah tidak percaya.

“Apa sih yang tidak bisa di SHS ini?” ucap Sehun setelah menghabiskan satu stick coklat terakhirnya.

Kai akhirnya hanya mengangguk-angguk membentuk huruf O pada mulutnya.

Mereka pun diam setelah itu, Sehun asyik dengan Handphone nya dan Kai asik sendiri dengan pikiran-pikirannya.

Siapa nama gadis itu waktu itu? Son… Naeun ya? Sepertinya iya. Son Naeun, pikirnya.


16.00 KST

Masuk di sekolah bergengsi dengan reputasi yang baik memang punya resiko yang tidak menyenangkan. Contohnya saja pulang sore. Biasanya sekolah lain pulang jam dua siang. Hanya Seoul High School saja yang menetapkan aturan pulang jam empat sore. Jika sudah memasuki tahun ketiga akan menjadi jam enam sore. Persiapan ujian akhir dan masuk universitas.

Sebenarnya Kai biasa saja. Lagipula ia senang bisa bersekolah disini. Selain membuat Ibunya bangga, ia juga dapat mengikuti ekstrakulikuler dance yang hanya ada di sekolah ini. Daripada ia harus mengeluarkan sejumlah uang lagi untuk memasuki sekolah dance dan harus menyusahkan ibunya dengan semua itu?

Hanya masalahnya, sekarang Kai harus mengambil tugas tambahan yang diberikan Guru Matematika Seksi tadi. Ia hampir saja lupa jika saja tidak ada pengumuman dari ruang siaran tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Sekarang ia harus menahan malu, menebalkan muka, mengingat hanya ia, atau baru ia saja di sekolah ini yang mengalami ‘hal seperti ini’.

Annyeong Seonsaengnim,” sapa Kai pada guru yang sedang mengetik sebuah kuis matematika pada notebooknya. Tampaknya guru tersebut memang layak menjadi staff pengajar di SHS ini. Selain cantik dan seksi, ia juga termasuk wanita yang smart dan penuh perencanaan.

Guru tersebut menoleh. “Oh, Kau Kim Jongin kelas satu-dua kan?” Tanya guru tersebut meyakinkan.

“Ne, Seonsaengnim,” jawab Kai sambil mengangguk.

Guru tersebut mengambil tiga lembar kertas dari map plastiknya yang berwarna pink. Lalu menyerahkannya pada Kai. “Ini kamu kerjakan semua. Saya harap seminggu kemudian tugas ini dikumpulkan dan dijawab dengan benar,” ucap guru tersebut dengan lemah lembut.

Ne, Seonsaengnim,” jawab Kai lagi. Jujur saja jantungnya berdetak tidak karuan saat ini. Terlebih lagi guru matematika ini bersikap lembut padanya. Berlainan seratus delapan puluh derajat saat bertemu di kelas tadi.

“Sekarang pulanglah. Saya minta maaf karena memarahimu tadi pagi,” ujar guru tersebut.

“Tidak! Tidak, Seonsaengnim! Saya lah yang seharusnya minta maaf!” seru Kai.

“Baiklah. Sekarang kamu pulang,” jawab guru tersebut.

“Terima kasih, Seonsaengnim,” ucap Kai sambil membungkuk. Ia pun bergegas pergi dari ruang guru tersebut dengan hati yang bisa dibilang berbunga-bunga. Mungkin setelah ini guru tersebut akan menjadi guru favoritnya selama di sekolah.

“Tolong, ya. Antar tugas tambahan ini pada Son Naeun.”

Ne, Seonsaenim,”

Pembicaraan singkat itu membuat langkah Kai berhenti. Ia menoleh dan melihat ke arah dua orang yang berbicara tadi. Hong Yookyung, teman sekelasnya,  dan seorang Guru Sejarah yang tadi mengajar di kelasnya. Dan mereka tadi menyebutkan nama ‘Son Naeun’ yang membuat rasa ingin tahunya keluar.

“Saya permisi dulu,” ucap Yookyung sambil membungkuk dan ia pun undur diri dari hadapan guru tersebut. Kai tidak tinggal diam. Ia langsung saja mengikuti Yookyung.

Ya! Hong Yookyung!!” panggil Kai. Gadis berambut pendek itu pun menoleh kebelakang untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.

“Kim Jongin?” ucapnya dengan penuh tanda tanya.

“Hei, apa kau mengenal Son Naeun?” tanya Kai.

“Tentu saja. Bahkan kami serumah,” jawab Yookyung.

“Kalian bersaudara?” tanya Kai lagi semakin ingin tahu.

Yookyung menggeleng. “Kami bukan saudara, namun kedua orang tua kami saling mengenal, kami pun diberikan sebuah rumah untuk tempat kami tinggal bersama ketiga eonni kami dan dua orang saeng. Jadi semuanya… tujuh orang,” jawab Yookyung panjang lebar.

Kai mengangguk dan mulutnya membentuk huruf O. “Jadi… Son Naeun kenapa? Dia sakit?” tanya Kai lagi.

“Ingin tahu saja,” jawab Yookyung sambil memonyongkan bibir mungilnya. Ia melihat jam di tangannya kemudian melengang pergi meninggalkan Kai.

Ya! Ya! Hong Yookyung! Apa salahnya aku bertanya?” ujar Kai sambil mengejar-ngejar Yookyung. Gadis itu diam saja. Kai tidak tinggal diam. “Hey!” ucapnya sambil memegang lengan Yookyung, membuat langkah gadis itu berhenti mendadak. Gadis itu melotot pada Kai. Ia ingin cepat-cepat pulang hari ini.

“Apa!” ujar Yookyung.

“Bolehkah aku ikut ke rumahmu, eh, kalian? Aku ingin… menjenguk Son Naeun!” seru Kai.

“Tidak boleh!” jawab Yookyung sarkastik sambil melepaskan pegangan Kai. Ia pun kembali melangkah pergi.

“Hei kenapa tidak boleh?” tanya Kai sambil berjalan dibelakang Yookyung.

“Nanti dia akan membencimu,” jawab Yookyung tanpa menoleh sedikitpun.

Langkah Kai terhenti. “Benci?” ucap Kai membeo. Dan kalimat yang selama ini menghampiri malam tidurnya pun kembali terngiang di kepalanya.

“Aisshhh!” Kai mengacak-acak rambutnya yang memang sudah acak-acakan dengan gemas. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Membuat ia semakin penasaran dengan gadis tersebut. Son Naeun.


17.00 KST

Kai menghembuskan nafasnya keras atas kerja kerasnya. Bukan Kim Jongin namanya kalau menyerah begitu saja.

Kini ia berada di depan sebuah rumah besar berwarna pink dengan halaman yang luas dan pagar besi berwarna hitam yang tinggi. Lelaki itu sempat terperangah melihat rumah yang luasnya dua puluh kali lipat dibandingkan rumahnya yang ia tempati berdua saja dengan ibunya.

Memang sih, menurut penuturan teman-teman,yang pasti hal ini ia dengar dari Sehun langsung, bahwa Yookyung adalah siswi yang paling kaya di SHS.

Oh, ya. Sekedar informasi, Kai mengikuti Yookyung dari belakang seperti penguntit. Tapi hasilnya, ia berhasil sampai tiba di depan rumah besar yang dihuni tujuh orang wanita tersebut.

Tentu saja Kai tidak akan mengetuk pintu atau memencet bel, mengingat gerbangnya di tutup. Untuk hari ini saja ia akan menjadi penjahat, menyusup di rumah perempuan, pikirnya. Ia pun bergegas mencari jalan masuk.

Berhasilkah ia?

-To Be Continued-
#ketawasetan

No comments:

Post a Comment

Yang udah berkunjung mohon tinggalkan untuk komentar. Saranghaeyo <3